TOKOH - Prof. Dr. dr. Jurnalis Uddin merupakan seorang dokter, ahli kesehatan, pendidik, dan tokoh penting dalam perjalanan Yayasan YARSI. Bersama sejumlah koleganya, termasuk Prof. Dr. Asri Rasad, ia ikut merintis lembaga pendidikan yang kemudian berkembang menjadi Universitas YARSI dan berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia.
Perjalanan hidup Jurnalis Uddin memperlihatkan bagaimana pengetahuan kedokteran dapat berkembang menjadi pengabdian yang lebih luas. Ia tidak hanya bekerja di ruang pendidikan dan laboratorium, tetapi juga ikut membangun lembaga yang mempertemukan ilmu pengetahuan, pelayanan kesehatan, dan nilai-nilai keislaman.
Lahir pada 10 Juli 1937, Jurnalis tumbuh dalam keluarga Minangkabau yang berasal dari Sulit Air, Sumatera Barat. Dari lingkungan keluarga tersebut, ia membawa semangat belajar dan pengabdian yang kelak menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Berasal dari Keluarga Sulit Air
Jurnalis Uddin lahir dari pasangan Uddin dan Zainah. Kedua orang tuanya berasal dari Sulit Air, sebuah nagari di Sumatera Barat yang dikenal memiliki tradisi merantau serta perhatian besar terhadap pendidikan.
Bagi banyak keluarga Minangkabau, pendidikan bukan hanya jalan untuk memperoleh pekerjaan. Ilmu dipandang sebagai bekal untuk memperbaiki kehidupan, menjaga martabat keluarga, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Nilai-nilai itulah yang turut mengiringi langkah Jurnalis ketika memilih dunia kedokteran sebagai jalan hidupnya.
Menjadi dokter pada masa itu bukan pilihan yang mudah. Pendidikan kedokteran membutuhkan ketekunan, disiplin, serta perjalanan akademik yang panjang. Namun, Jurnalis menjalani proses tersebut dengan kesungguhan.
Ia kemudian diterima sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Menempuh Pendidikan Kedokteran di Yogyakarta
Yogyakarta menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan akademik Jurnalis Uddin. Di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, ia mempelajari berbagai dasar ilmu kedokteran serta keterampilan yang dibutuhkan untuk memahami tubuh manusia dan penyakit.
Di ruang kuliah, laboratorium, dan tempat praktik, Jurnalis belajar bahwa profesi dokter tidak hanya membutuhkan kecerdasan. Seorang dokter juga harus memiliki ketelitian, kesabaran, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap kehidupan manusia.
Setelah melalui pendidikan yang panjang, Jurnalis menyelesaikan studi kedokterannya pada tahun 1965.
Kelulusan tersebut menjadi awal perjalanan pengabdiannya dalam dunia kesehatan. Namun, ia tidak berhenti setelah memperoleh gelar dokter.
Perhatiannya terhadap ilmu dasar kedokteran membawanya melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di kampus tersebut, Jurnalis memilih spesialisasi anatomi.
Mendalami Anatomi Tubuh Manusia
Anatomi merupakan salah satu fondasi utama dalam pendidikan kedokteran. Bidang ini mempelajari bentuk, susunan, serta hubungan antarbagian tubuh manusia.
Bagi seorang dokter, pemahaman anatomi sangat penting. Diagnosis, tindakan medis, pembedahan, dan berbagai bentuk pelayanan kesehatan membutuhkan pengetahuan yang tepat mengenai struktur tubuh.
Ketertarikan Jurnalis terhadap anatomi menunjukkan kedekatannya dengan dunia akademik. Ia tidak hanya ingin mengobati pasien, tetapi juga memahami secara mendalam ilmu yang mendasari praktik kedokteran.
Pendidikan spesialisasi tersebut kemudian menjadi bekal penting dalam kariernya sebagai pengajar.
Di depan mahasiswa, Jurnalis tidak sekadar menyampaikan nama-nama bagian tubuh. Ia ikut menanamkan ketelitian dan kedisiplinan yang menjadi dasar profesi kedokteran.
Setiap calon dokter harus memahami bahwa tubuh manusia tidak dapat diperlakukan secara sembarangan. Kesalahan kecil dalam memahami struktur tubuh dapat memberikan akibat besar bagi pasien.
Melalui pengajaran anatomi, Jurnalis membantu menyiapkan generasi dokter yang memiliki dasar ilmu kuat sebelum memasuki praktik klinis.
Membangun Lembaga Pendidikan Kedokteran
Pada masa ketika kebutuhan terhadap tenaga dokter terus meningkat, Jurnalis Uddin bersama sejumlah koleganya melihat pentingnya mendirikan lembaga pendidikan kesehatan.
Gagasan tersebut tidak dapat diwujudkan seorang diri. Membangun perguruan tinggi membutuhkan kerja sama, keberanian, sumber daya, tenaga pengajar, serta kepercayaan dari masyarakat.
Bersama Prof. Dr. Asri Rasad dan tokoh-tokoh lainnya, Jurnalis ikut mendirikan Yayasan YARSI.
Yayasan tersebut kemudian menjadi pengelola berbagai lembaga pendidikan dan pelayanan kesehatan. Salah satu lembaga utamanya adalah Universitas YARSI.
Pendirian Universitas YARSI menjadi bagian penting dalam perkembangan pendidikan kedokteran dan kesehatan di Indonesia. Kampus tersebut dibangun untuk menyiapkan tenaga profesional yang memiliki pengetahuan ilmiah sekaligus memahami nilai kemanusiaan dan keagamaan.
Bagi Jurnalis dan para pendiri lainnya, pendidikan dokter tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memahami penyakit dan pengobatan.
Dokter juga harus memiliki etika, kepedulian sosial, serta kesadaran bahwa profesinya merupakan bentuk pengabdian kepada sesama manusia.
Menggabungkan Ilmu Kedokteran dan Nilai Keislaman
Nama YARSI kemudian dikenal sebagai lembaga yang berusaha mempertemukan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Islam.
Dalam pendidikan kedokteran, hubungan tersebut memiliki arti yang mendalam. Ilmu menjelaskan struktur dan fungsi tubuh manusia, sedangkan nilai agama memberikan dasar moral dalam menggunakan ilmu itu.
Seorang dokter berhadapan dengan manusia yang sedang berada dalam keadaan lemah. Pasien datang dengan rasa sakit, kekhawatiran, dan harapan untuk disembuhkan.
Karena itu, pelayanan medis tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis. Dokter juga harus mampu menjaga martabat pasien, menghormati kehidupan, dan menjalankan profesinya dengan penuh tanggung jawab.
Jurnalis Uddin ikut membangun lingkungan pendidikan yang menempatkan ilmu dan akhlak sebagai dua unsur yang saling melengkapi.
Melalui Universitas YARSI, ia membantu membuka kesempatan kepada generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi, terutama dalam bidang kedokteran dan kesehatan.
Dari Kampus Menuju Pelayanan Kesehatan
Perjalanan Yayasan YARSI tidak berhenti pada penyelenggaraan pendidikan tinggi.
Yayasan tersebut juga mengembangkan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk Rumah Sakit YARSI yang hadir di sejumlah wilayah Indonesia.
Perkembangan itu memperlihatkan hubungan erat antara pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Universitas menjadi tempat mahasiswa belajar teori dan mengembangkan ilmu. Sementara itu, rumah sakit menjadi tempat ilmu kedokteran diterapkan untuk membantu masyarakat.
Bagi sebuah lembaga pendidikan kedokteran, keberadaan rumah sakit memiliki arti penting. Mahasiswa dan tenaga kesehatan dapat belajar dari persoalan nyata yang dihadapi pasien.
Namun, lebih dari itu, rumah sakit merupakan wujud pengabdian langsung kepada masyarakat.
Melalui berbagai fasilitas kesehatan yang dikelola Yayasan YARSI, cita-cita para pendirinya tumbuh menjadi pelayanan yang dapat dirasakan masyarakat secara nyata.
Apa yang semula dimulai sebagai gagasan pendidikan berkembang menjadi jaringan pengabdian dalam bidang kesehatan.
Mengajar dan Membentuk Generasi Dokter
Di samping menjalankan peran dalam pengembangan yayasan, Jurnalis Uddin tetap aktif sebagai pengajar di Universitas YARSI.
Mengajar menjadi bagian penting dalam hidupnya. Melalui ruang kuliah, ia dapat meneruskan ilmu dan pengalaman kepada generasi berikutnya.
Seorang pengajar kedokteran tidak hanya menyampaikan materi untuk menghadapi ujian. Ia ikut membentuk cara mahasiswa berpikir dan bersikap ketika kelak menghadapi pasien.
Ketelitian yang diajarkan dalam anatomi akan memengaruhi cara seorang dokter melakukan pemeriksaan. Kedisiplinan di laboratorium akan menentukan kehati-hatian dalam praktik. Nilai etika yang ditanamkan di kampus akan menjadi pedoman ketika seorang tenaga kesehatan menghadapi keputusan sulit.
Jurnalis memahami bahwa hasil pendidikan tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.
Seorang dosen mungkin hanya bertemu mahasiswa selama beberapa semester. Namun, ilmu dan keteladanan yang diberikan dapat dibawa mahasiswa sepanjang kehidupan profesionalnya.
Melalui para lulusan itulah pengabdian seorang pendidik terus berlanjut.
Memimpin Yayasan YARSI
Kepercayaan terhadap Jurnalis Uddin tidak hanya diberikan dalam bidang pengajaran. Ia juga diserahi tanggung jawab sebagai Ketua Yayasan YARSI.
Jabatan tersebut menempatkannya dalam posisi penting untuk menjaga arah dan keberlanjutan lembaga.
Mengelola yayasan pendidikan dan kesehatan memerlukan kemampuan yang berbeda dari kegiatan mengajar. Seorang pemimpin yayasan harus memikirkan perkembangan universitas, kualitas akademik, tenaga pengajar, pelayanan rumah sakit, serta kebutuhan masyarakat.
Ia juga harus memastikan bahwa lembaga yang dibangun tetap berpegang pada cita-cita awal para pendirinya.
Di tengah perubahan zaman, pendidikan dan pelayanan kesehatan terus menghadapi tantangan baru. Perkembangan teknologi, perubahan jenis penyakit, meningkatnya kebutuhan masyarakat, serta tuntutan mutu memerlukan penyesuaian yang berkelanjutan.
Sebagai salah seorang pendiri sekaligus pemimpin yayasan, Jurnalis berada di antara generasi perintis dan generasi penerus.
Ia ikut menjaga agar lembaga tersebut tidak hanya bertumbuh secara fisik, tetapi juga mempertahankan nilai pengabdian yang menjadi dasar pendiriannya.
Memperhatikan Kependudukan dan Gender
Perhatian Jurnalis Uddin tidak hanya terbatas pada anatomi dan pendidikan kedokteran.
Ia juga dipercaya menjadi Kepala Lembaga Studi Kependudukan dan Gender Universitas YARSI.
Bidang kependudukan dan gender memiliki hubungan erat dengan persoalan kesehatan. Jumlah dan persebaran penduduk memengaruhi kebutuhan terhadap rumah sakit, tenaga dokter, layanan ibu dan anak, serta berbagai program kesehatan masyarakat.
Persoalan gender juga berhubungan dengan akses terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, kesempatan bekerja, dan perlindungan terhadap kelompok rentan.
Melalui lembaga tersebut, Jurnalis ikut mendorong kajian yang melihat kesehatan dalam konteks sosial yang lebih luas.
Ia memahami bahwa kesehatan seseorang tidak hanya dipengaruhi kondisi tubuh. Faktor keluarga, lingkungan, ekonomi, pendidikan, dan kedudukan sosial turut menentukan.
Seorang perempuan, misalnya, dapat menghadapi persoalan kesehatan yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, pengasuhan, pekerjaan, dan akses terhadap pelayanan medis.
Demikian pula pertumbuhan penduduk dapat memengaruhi kemampuan negara serta masyarakat dalam menyediakan pendidikan dan kesehatan yang memadai.
Perhatian terhadap kependudukan dan gender menunjukkan luasnya ruang pengabdian Jurnalis. Ia memandang kesehatan bukan hanya sebagai persoalan individu, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat.
Dikukuhkan sebagai Guru Besar
Pengabdian panjang Jurnalis Uddin dalam dunia pendidikan memperoleh pengakuan dari Universitas YARSI.
Ia dikukuhkan sebagai guru besar, jabatan akademik tertinggi yang diberikan kepada seorang dosen.
Gelar profesor bukan hanya bentuk penghormatan terhadap pengetahuan. Di dalamnya terdapat pengakuan terhadap kegiatan mengajar, penelitian, pengembangan ilmu, serta pengabdian kepada masyarakat.
Bagi Jurnalis, pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang sejak menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Gadjah Mada, melanjutkan spesialisasi anatomi di Universitas Indonesia, hingga ikut mendirikan dan mengembangkan YARSI.
Namun, seorang guru besar tidak berhenti sebagai pemilik gelar.
Ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga tradisi keilmuan, membimbing generasi muda, serta memastikan pengetahuan digunakan bagi kepentingan manusia.
Warisan Seorang Perintis
Perjalanan Jurnalis Uddin merupakan kisah tentang seorang dokter yang memilih memperluas ruang pengabdiannya melalui pendidikan.
Ia dapat saja menjalani karier hanya sebagai tenaga medis atau ahli anatomi. Namun, bersama rekan-rekannya, ia memilih ikut membangun lembaga yang dapat melahirkan banyak dokter dan tenaga profesional.
Keputusan tersebut membuat manfaat ilmunya berkembang jauh melampaui ruang kelas dan tempat praktik.
Melalui Universitas YARSI, ribuan mahasiswa memperoleh pendidikan. Melalui Rumah Sakit YARSI, masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan. Melalui lembaga penelitian, berbagai persoalan kependudukan dan gender dapat dipelajari secara lebih mendalam.
Jurnalis Uddin menjadi bagian dari generasi pendiri yang meletakkan dasar bagi perkembangan tersebut.
Ia memulai perjalanan sebagai anak pasangan Uddin dan Zainah dari Sulit Air. Ia kemudian menempuh pendidikan kedokteran di Yogyakarta dan mendalami anatomi di Jakarta.
Ilmu yang diperolehnya tidak disimpan untuk dirinya sendiri. Ia membawanya ke ruang kuliah, lembaga pendidikan, yayasan, pusat kajian, dan pelayanan kesehatan.
Kisah hidupnya menunjukkan bahwa seorang pendidik tidak hanya dikenang melalui buku yang ditulis atau kuliah yang disampaikan.
Seorang pendidik juga dapat dikenang melalui lembaga yang dibangunnya, mahasiswa yang dibimbingnya, serta nilai pengabdian yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Prof. Dr. Jurnalis Uddin merupakan salah seorang tokoh yang menanamkan fondasi penting bagi YARSI. Bersama para koleganya, ia membantu membangun jembatan antara ilmu kedokteran, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan nilai kemanusiaan.
Dari fondasi itulah YARSI tumbuh menjadi lembaga yang terus melanjutkan cita-cita para pendirinya: mendidik manusia, mengembangkan ilmu, dan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. (PERS)

Updates.