TOKOH - Dr. H. Anwar Abbas merupakan salah satu tokoh Islam Indonesia yang dikenal aktif dalam dunia pendidikan, organisasi, ekonomi syariah, dan kehidupan kebangsaan. Ia adalah ulama, dosen, serta ahli ekonomi Islam yang menempuh perjalanan panjang dari sebuah jorong di Kabupaten Lima Puluh Kota hingga dipercaya menduduki berbagai jabatan penting di Majelis Ulama Indonesia dan Muhammadiyah.
Lahir pada 15 Februari 1955, Anwar Abbas tumbuh dalam lingkungan masyarakat Minangkabau yang kuat dengan tradisi agama, pendidikan, dan musyawarah. Nilai-nilai tersebut kelak memengaruhi cara dirinya memandang kehidupan umat, ekonomi, organisasi, dan negara.
Namanya semakin dikenal luas ketika dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia pada periode 2015–2020. Setelah itu, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum MUI periode 2020–2025 dan kembali memperoleh amanah untuk periode 2025–2030.
Namun, perjalanan Anwar Abbas tidak hanya berlangsung di ruang organisasi keagamaan. Ia juga menghabiskan puluhan tahun hidupnya sebagai dosen, pengelola perguruan tinggi, pejabat rumah sakit, anggota lembaga negara, dan penggerak ekonomi umat.
Berasal dari Jorong Balai Mansiro
Anwar Abbas lahir di Jorong Balai Mansiro, Nagari Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Daerah tersebut berada dalam lingkungan Minangkabau yang dikenal kuat memegang adat, agama, dan tradisi pendidikan. Kehidupan masyarakat nagari mengajarkan pentingnya kebersamaan serta keterlibatan dalam persoalan umat.
Di lingkungan seperti itulah Anwar tumbuh. Sejak muda, ia menyaksikan bagaimana surau, masjid, keluarga, dan masyarakat menjadi tempat berlangsungnya pendidikan agama sekaligus pembentukan karakter.
Tradisi Minangkabau juga memperkenalkannya kepada budaya berdiskusi dan bermusyawarah. Setiap persoalan tidak selalu diselesaikan secara sepihak, tetapi dibicarakan bersama dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat.
Pengalaman tersebut kelak menjadi bekal ketika Anwar memasuki organisasi Islam dan berbagai lembaga nasional.
Dalam kehidupan pribadi, Anwar Abbas menikah dengan Nurlaili. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak, yakni Hero Adela, Dini Amalia, dan Erika Firdausi Amalia.
Keluarga menjadi tempatnya kembali setelah menjalani berbagai kesibukan sebagai pengajar, tokoh organisasi, dan figur publik.
Memilih Jalan Pendidikan
Anwar Abbas menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dalam kehidupannya. Ketertarikannya tidak hanya tertuju pada ilmu agama dalam pengertian umum, tetapi juga kepada persoalan ekonomi dan manajemen.
Ia menempuh pendidikan Magister Agama dengan konsentrasi ekonomi Islam di Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Pilihan tersebut mempertemukannya dengan pembahasan mengenai hubungan ajaran Islam dan kegiatan ekonomi. Ia mempelajari bagaimana prinsip syariah diterapkan dalam perdagangan, keuangan, perbankan, serta pengelolaan kekayaan.
Baginya, ekonomi bukan sekadar persoalan mencari keuntungan. Dalam pandangan Islam, kegiatan ekonomi juga berhubungan dengan keadilan, kesejahteraan, tanggung jawab sosial, dan perlindungan terhadap pihak yang lemah.
Anwar juga meraih gelar Magister Manajemen dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IPWI Jakarta.
Pendidikan manajemen memberinya kemampuan untuk memahami tata kelola organisasi, sumber daya manusia, kepemimpinan, serta pengambilan keputusan.
Perpaduan antara ilmu agama, ekonomi Islam, dan manajemen membentuk bidang keahlian yang kemudian banyak mewarnai perjalanan kariernya.
Ia tidak hanya berbicara mengenai nilai-nilai keagamaan secara normatif. Ia juga berusaha melihat bagaimana nilai tersebut dapat diterapkan dalam kelembagaan dan kehidupan ekonomi.
Keinginan memperdalam ilmu kemudian membawanya menempuh pendidikan doktoral di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada tahun 2008, Anwar Abbas berhasil memperoleh gelar doktor dalam bidang syariah dan pemikiran Islam.
Pendidikan doktoral tersebut memperkuat kedudukannya sebagai akademisi dan pemikir ekonomi Islam.
Mengajar Ekonomi dan Perbankan Syariah
Karier panjang Anwar Abbas dalam dunia pendidikan dijalaninya sebagai dosen tetap berstatus pegawai negeri sipil di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ia mengajar pada Program Studi Perbankan Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Di ruang kuliah, Anwar mempertemukan pembahasan agama dengan perkembangan ekonomi modern. Mahasiswa tidak hanya mempelajari hukum-hukum transaksi, tetapi juga memahami praktik perbankan, manajemen, kelembagaan keuangan, dan persoalan ekonomi masyarakat.
Perbankan syariah tumbuh dari kebutuhan masyarakat terhadap sistem keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Namun, menurut pendekatan yang dipelajarinya, lembaga keuangan syariah tidak cukup hanya mengganti istilah. Sistem tersebut harus benar-benar membawa nilai keadilan, keterbukaan, dan kemaslahatan.
Anwar mendorong mahasiswa agar memahami bahwa ekonomi Islam tidak hanya berbicara mengenai larangan riba.
Di dalamnya terdapat perhatian terhadap pemerataan, pemberdayaan usaha kecil, pengelolaan zakat, wakaf, kerja sama usaha, serta perlindungan terhadap masyarakat yang lemah secara ekonomi.
Sebagai dosen, ia menghadapi generasi mahasiswa dengan latar belakang dan pengalaman berbeda.
Ada mahasiswa yang tertarik menjadi praktisi perbankan, ada yang ingin menjadi peneliti, dan ada pula yang hendak terjun ke dunia usaha.
Tugas seorang pengajar adalah memberikan dasar ilmu sekaligus membantu mahasiswa melihat tanggung jawab sosial dari profesi yang akan dijalani.
Setelah menjalani pengabdian panjang, Anwar Abbas resmi memasuki masa pensiun sebagai dosen terhitung sejak 1 Maret 2020.
Pensiun dari status kepegawaian tidak menghentikan kiprahnya dalam menyampaikan pemikiran. Ia tetap aktif berbicara mengenai ekonomi, agama, pendidikan, dan persoalan kebangsaan.
Mengelola Perguruan Tinggi Muhammadiyah
Selain mengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Anwar Abbas juga pernah memperoleh kepercayaan dalam pengelolaan perguruan tinggi Muhammadiyah.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Rektor II dan Wakil Rektor IV Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Jakarta.
Perguruan tinggi tersebut kemudian berkembang dan dikenal sebagai Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka atau UHAMKA.
Jabatan Wakil Rektor II berkaitan erat dengan pengelolaan administrasi, keuangan, serta sumber daya kampus. Sementara itu, jabatan Wakil Rektor IV umumnya berhubungan dengan kerja sama dan pengembangan kelembagaan.
Pengalaman tersebut membuat Anwar memahami pendidikan tinggi tidak hanya dari sisi pengajaran.
Sebuah universitas membutuhkan tata kelola yang tertib, tenaga pendidik yang berkualitas, sistem keuangan yang sehat, serta hubungan yang baik dengan masyarakat dan lembaga lain.
Kampus juga harus mempertahankan identitas sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah, UHAMKA membawa misi pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial. Karena itu, pengelolaannya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan lembaga, tetapi juga pembentukan karakter mahasiswa.
Mengelola Sumber Daya Manusia Rumah Sakit
Karier Anwar Abbas juga bersentuhan dengan dunia pelayanan kesehatan.
Ia pernah dipercaya menjadi Direktur Sumber Daya Manusia Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Rumah sakit merupakan organisasi yang kompleks. Di dalamnya bekerja dokter, perawat, tenaga kesehatan, pegawai administrasi, petugas laboratorium, dan berbagai profesi lainnya.
Setiap profesi memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda, tetapi semuanya harus bekerja dalam arah yang sama: memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.
Sebagai pengelola sumber daya manusia, Anwar harus memahami persoalan tenaga kerja, hubungan antarpegawai, pembinaan, disiplin, dan peningkatan kompetensi.
Pengalaman tersebut sesuai dengan latar belakang pendidikannya dalam bidang manajemen.
Namun, rumah sakit juga memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat. Pegawai tidak hanya berhadapan dengan prosedur dan target kerja, tetapi juga dengan pasien dan keluarga yang sedang menghadapi kesulitan.
Karena itu, pengelolaan sumber daya manusia di rumah sakit membutuhkan keseimbangan antara profesionalisme dan kepedulian.
Menjadi Anggota MPR Utusan Golongan
Pada periode 1997–1999, Anwar Abbas pernah diangkat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dari unsur Utusan Golongan.
Keanggotaan tersebut membawanya memasuki ruang kehidupan politik dan ketatanegaraan nasional.
Masa itu merupakan salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia. Negara sedang menghadapi perubahan besar yang kemudian melahirkan era Reformasi.
Sebagai anggota MPR, Anwar berada di lingkungan lembaga yang memiliki kedudukan penting dalam sistem ketatanegaraan pada masa tersebut.
Pengalaman itu memperluas pemahamannya mengenai hubungan antara agama, politik, kekuasaan, dan aspirasi masyarakat.
Ia tidak hanya memandang persoalan bangsa dari sudut pandang akademik atau organisasi Islam. Ia juga melihat langsung dinamika lembaga negara dan perubahan politik nasional.
Perjalanan Panjang di Muhammadiyah
Muhammadiyah menjadi salah satu ruang pengabdian terpenting dalam kehidupan Anwar Abbas.
Organisasi tersebut dikenal bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, serta pemberdayaan masyarakat.
Dalam perjalanan organisasinya, Anwar pernah dipercaya menjadi Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Jabatan bendahara menuntut ketelitian dan kepercayaan. Muhammadiyah merupakan organisasi besar dengan banyak lembaga pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, dan kegiatan sosial.
Pengelolaan keuangan harus dilakukan secara bertanggung jawab agar setiap program dapat berjalan dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga.
Latar belakang Anwar dalam ekonomi dan manajemen membuatnya dekat dengan bidang tersebut.
Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Melalui majelis itu, Anwar mendorong penguatan ekonomi umat dan pengembangan kewirausahaan.
Ia memahami bahwa umat tidak cukup hanya dibina dalam bidang ibadah dan pendidikan. Kemandirian ekonomi juga sangat penting.
Masyarakat yang lemah secara ekonomi akan lebih mudah menghadapi berbagai bentuk ketergantungan. Karena itu, organisasi Islam perlu membantu membangun usaha, keterampilan, dan jaringan ekonomi.
Anwar juga dipercaya menjadi salah seorang Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk periode 2015–2020.
Dalam posisi tersebut, ia ikut terlibat dalam penentuan kebijakan organisasi di tingkat nasional.
Muhammadiyah memiliki anggota dan amal usaha yang tersebar di berbagai wilayah. Setiap keputusan harus mempertimbangkan kebutuhan organisasi, perkembangan masyarakat, dan persoalan bangsa.
Mengabdi di Majelis Ulama Indonesia
Kiprah Anwar Abbas di Majelis Ulama Indonesia berlangsung dalam beberapa periode dan jabatan.
Pada periode 2010–2015, ia dipercaya menjadi salah seorang Ketua MUI.
Jabatan tersebut memberinya tanggung jawab dalam membahas berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam.
MUI bukan hanya lembaga yang mengeluarkan fatwa. Organisasi ini juga menjadi tempat berkumpulnya ulama, cendekiawan, dan perwakilan organisasi Islam.
Berbagai persoalan yang dibahas dapat mencakup ibadah, ekonomi, makanan dan obat-obatan, hubungan sosial, kebijakan publik, serta perkembangan teknologi.
Pada periode 2015–2020, Anwar Abbas dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal MUI.
Sebagai sekretaris jenderal, ia berada di pusat kegiatan organisasi. Ia harus mengoordinasikan administrasi, komunikasi, pelaksanaan keputusan, dan hubungan dengan berbagai lembaga.
Jabatan tersebut menuntut kemampuan manajerial sekaligus pemahaman terhadap karakter berbagai organisasi Islam yang bernaung dalam MUI.
Setelah menyelesaikan masa tugas sebagai sekretaris jenderal, Anwar memperoleh amanah sebagai Wakil Ketua Umum MUI untuk periode 2020–2025.
Ia kemudian kembali dipercaya menduduki jabatan Wakil Ketua Umum untuk periode 2025–2030.
Kepercayaan yang berulang menunjukkan bahwa pemikiran dan pengalamannya masih dibutuhkan dalam organisasi tersebut.
Dalam berbagai kesempatan, Anwar dikenal aktif menyampaikan pandangan mengenai ekonomi, kebijakan pemerintah, kesejahteraan masyarakat, dan persoalan umat.
Sebagai ulama sekaligus ekonom, ia sering melihat persoalan keagamaan dalam hubungan dengan kondisi sosial.
Baginya, kemiskinan, ketimpangan, dan lemahnya kemandirian ekonomi juga merupakan persoalan umat yang harus mendapatkan perhatian serius.
Berkiprah di Organisasi Buruh Internasional
Perhatian Anwar Abbas terhadap persoalan tenaga kerja tidak hanya berlangsung di Indonesia.
Pada periode 2000–2005, ia pernah dipercaya menjadi Wakil Presiden Konfederasi Buruh Islam Internasional atau International Islamic Confederation of Labour.
Jabatan tersebut membawanya ke lingkungan kerja sama antarnegara dalam membahas persoalan buruh dan ketenagakerjaan.
Buruh merupakan bagian penting dalam kegiatan ekonomi. Namun, mereka sering berada dalam posisi yang lemah ketika berhadapan dengan perusahaan dan kekuatan modal.
Dalam perspektif ekonomi Islam, pekerja memiliki hak untuk memperoleh upah yang layak, perlakuan adil, perlindungan, dan kondisi kerja yang manusiawi.
Pengalaman dalam organisasi buruh internasional memperluas pemahaman Anwar terhadap persoalan ekonomi global.
Masalah tenaga kerja tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara pekerja dan perusahaan. Di dalamnya terdapat persoalan migrasi, perdagangan internasional, teknologi, kemiskinan, dan kebijakan negara.
Menulis tentang Bung Hatta dan Ekonomi Islam
Salah satu karya tulis Anwar Abbas berjudul Bung Hatta dan Ekonomi Islam.
Pemilihan Mohammad Hatta sebagai tokoh kajian memiliki makna tersendiri. Hatta tidak hanya dikenal sebagai proklamator dan wakil presiden pertama Indonesia, tetapi juga sebagai pemikir ekonomi dan tokoh koperasi.
Pemikiran Hatta mengenai ekonomi rakyat, koperasi, dan keadilan memiliki banyak titik pertemuan dengan nilai-nilai ekonomi Islam.
Melalui karya tersebut, Anwar berusaha melihat gagasan ekonomi Bung Hatta dalam hubungan dengan prinsip syariah.
Ekonomi Islam dan pemikiran Hatta sama-sama memberi perhatian kepada keadilan, kebersamaan, dan penguatan masyarakat kecil.
Bagi Anwar, ekonomi tidak boleh hanya dikuasai kelompok yang memiliki modal besar.
Kegiatan ekonomi harus memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk berkembang dan memperoleh kehidupan yang layak.
Koperasi, usaha kecil, zakat, wakaf produktif, serta lembaga keuangan syariah dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi yang lebih adil.
Ulama yang Berbicara tentang Ekonomi Umat
Anwar Abbas dikenal sebagai ulama yang sering menyoroti persoalan ekonomi.
Ia melihat bahwa dakwah tidak cukup hanya berbicara mengenai ibadah individual.
Umat juga menghadapi persoalan pekerjaan, penghasilan, utang, harga kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dan kepemilikan usaha.
Ketika kehidupan ekonomi masyarakat lemah, berbagai persoalan sosial dapat muncul.
Anak-anak mungkin kesulitan memperoleh pendidikan. Keluarga tidak mampu mendapatkan pelayanan kesehatan. Masyarakat juga dapat semakin bergantung kepada pihak yang lebih kuat.
Karena itu, penguatan ekonomi umat menjadi bagian penting dari pengabdian organisasi Islam.
Anwar mendorong agar umat mengembangkan semangat kewirausahaan. Namun, usaha tersebut harus dijalankan secara jujur dan bertanggung jawab.
Keuntungan bukan satu-satunya tujuan. Dalam Islam, kegiatan ekonomi juga harus mempertimbangkan manfaat bagi orang lain.
Pedagang harus jujur kepada pembeli. Pengusaha harus memperlakukan pekerja dengan baik. Lembaga keuangan harus menghindari praktik yang merugikan masyarakat.
Keluarga di Tengah Kesibukan Organisasi
Di balik berbagai jabatan publik, Anwar Abbas menjalani kehidupan keluarga bersama Nurlaili.
Mereka membesarkan tiga orang anak, Hero Adela, Dini Amalia, dan Erika Firdausi Amalia.
Kehidupan sebagai tokoh organisasi menuntut banyak waktu dan perjalanan. Rapat, seminar, kegiatan dakwah, serta tugas akademik sering membuat seorang tokoh harus berada jauh dari rumah.
Dalam keadaan tersebut, dukungan keluarga menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdian.
Keluarga bukan hanya tempat beristirahat. Di dalamnya terdapat tanggung jawab, pendidikan, dan keteladanan.
Seorang tokoh agama yang berbicara mengenai nilai-nilai moral di depan masyarakat juga dituntut menerapkannya dalam kehidupan rumah tangga.
Mengakhiri Masa Dosen, Melanjutkan Pengabdian
Pada 1 Maret 2020, Anwar Abbas resmi memasuki masa pensiun sebagai dosen PNS di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Masa pensiun menandai berakhirnya tanggung jawab formal sebagai pegawai negeri. Namun, bukan berarti tugas intelektual dan sosialnya berhenti.
Pengalaman puluhan tahun sebagai dosen tetap menjadi bagian dari dirinya.
Setiap mahasiswa yang pernah mengikuti kuliahnya membawa sebagian dari ilmu yang telah dibagikan.
Sebagian mungkin menjadi praktisi perbankan syariah, dosen, pengusaha, pegawai pemerintahan, atau penggerak masyarakat.
Dengan cara itu, pengabdian seorang pendidik berlanjut melalui kehidupan para muridnya.
Setelah pensiun, Anwar masih aktif dalam MUI, Muhammadiyah, dan berbagai kegiatan publik.
Ia tetap menyampaikan pandangan mengenai ekonomi umat, kebijakan negara, serta kehidupan keagamaan.
Warisan Pemikiran dan Pengabdian
Perjalanan Anwar Abbas menggambarkan hubungan yang erat antara agama, ekonomi, pendidikan, dan organisasi.
Ia memulai kehidupan dari Jorong Balai Mansiro di Lima Puluh Kota. Dari sana, ia menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor.
Ia mengajar mahasiswa perbankan syariah, mengelola perguruan tinggi, menangani sumber daya manusia rumah sakit, dan menjadi anggota MPR.
Di Muhammadiyah, ia pernah menjadi bendahara umum, memimpin majelis ekonomi dan kewirausahaan, serta duduk sebagai salah seorang ketua pimpinan pusat.
Di MUI, ia menempuh perjalanan dari ketua, sekretaris jenderal, hingga wakil ketua umum.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa dirinya tidak hanya berbicara mengenai ekonomi Islam dari ruang akademik.
Ia juga berusaha menerapkannya melalui organisasi, kelembagaan, dan penguatan masyarakat.
Anwar Abbas memandang Islam sebagai ajaran yang memperhatikan kehidupan manusia secara menyeluruh.
Ibadah memiliki tempat penting, tetapi keadilan ekonomi, kesejahteraan pekerja, pendidikan, dan kemandirian umat juga tidak boleh diabaikan.
Baginya, ulama tidak hanya bertugas menjelaskan hukum agama. Ulama juga perlu memahami persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Seorang ulama harus mampu berbicara mengenai kemiskinan, lapangan kerja, ketimpangan, dan tata kelola ekonomi.
Dari pengalaman sebagai dosen dan ahli ekonomi Islam, Anwar membawa pembahasan tersebut ke ruang organisasi nasional.
Kisah hidupnya menunjukkan perjalanan seorang anak nagari yang tumbuh menjadi pendidik dan pemimpin umat.
Dari ruang kuliah hingga kantor MUI, dari organisasi Muhammadiyah hingga forum buruh internasional, Anwar Abbas terus membawa satu perhatian yang sama: bagaimana nilai-nilai Islam dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih adil, mandiri, dan sejahtera. (PERS)

Updates.