TOKOH - Drs. Ady Rosa, M.Sn. merupakan pakar tato, pelukis, penulis, dan pengajar Indonesia yang dikenal luas melalui penelitian panjangnya mengenai tato tradisional Mentawai. Lahir pada 3 Juli 1953, sebagian besar kehidupan intelektualnya dihabiskan untuk mempelajari seni, kebudayaan, serta makna simbolik yang hidup dalam masyarakat. Namanya kemudian melekat dengan julukan yang tidak biasa: Jenderal Tato Indonesia.
Julukan itu bukan muncul karena kegemarannya menghias tubuh, melainkan karena ketekunannya meneliti salah satu tradisi tato paling tua dan kompleks di Nusantara.
Selama bertahun-tahun, Ady Rosa menelusuri Kepulauan Mentawai, berbicara dengan masyarakat, mempelajari bentuk-bentuk tato, mendokumentasikan motif, serta berusaha memahami makna di balik setiap garis yang terukir pada tubuh masyarakat Mentawai.
Dari perjalanan penelitian tersebut, ia berhasil mengidentifikasi sedikitnya 160 motif tato tradisional Mentawai.
Bagi Ady Rosa, tato bukan sekadar gambar pada kulit. Tato adalah bahasa budaya. Di dalamnya terdapat identitas, status sosial, hubungan manusia dengan alam, kepercayaan, serta jejak kehidupan sebuah masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari Dunia Seni Menuju Ruang Akademik
Ady Rosa menempuh perjalanan sebagai seniman sekaligus akademisi. Ia dikenal sebagai pelukis dan penulis, tetapi juga mengabdikan diri sebagai pengajar di Fakultas Bahasa, Sastra, dan Seni Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat.
Lingkungan pendidikan memberinya ruang untuk mempertemukan pengalaman seni dengan penelitian ilmiah.
Sebagai pengajar, ia tidak hanya berbicara mengenai teknik menggambar atau bentuk visual. Ia memandang karya seni sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Setiap garis, warna, simbol, dan pola memiliki hubungan dengan manusia yang menciptakannya.
Cara pandang tersebut kemudian membawanya kepada salah satu objek penelitian yang paling menarik dalam kehidupannya: tato Mentawai.
Ketika Tubuh Menjadi Kanvas Kebudayaan
Kepulauan Mentawai memiliki tradisi kebudayaan yang sangat khas.
Dalam kehidupan masyarakat tradisional Mentawai, tubuh tidak hanya menjadi bagian biologis manusia.
Tubuh juga menjadi ruang untuk menampilkan identitas. Melalui tato, masyarakat dapat menyampaikan berbagai informasi mengenai dirinya.
Motif tertentu dapat memiliki hubungan dengan lingkungan, kehidupan sosial, kepercayaan, pekerjaan, atau kedudukan seseorang.
Bagi orang yang tidak memahami kebudayaan Mentawai, tato mungkin hanya terlihat sebagai rangkaian garis dan bentuk.
Namun bagi Ady Rosa, setiap pola menyimpan cerita. Ia tertarik mencari tahu mengapa suatu motif digunakan.
Siapa yang boleh mengenakannya?
Bagaimana proses pembuatannya?
Apa maknanya bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuatnya tidak cukup hanya melihat tato dari foto atau buku. Ia harus mendatangi masyarakat yang mempertahankan tradisi tersebut.
Menelusuri Mentawai
Penelitian mengenai tato Mentawai tidak dilakukan dalam waktu singkat. Ady Rosa menjalaninya selama bertahun-tahun. Ia harus mengamati, mencatat, menggambar, dan membandingkan berbagai motif yang ditemui.
Setiap perjalanan membuka kemungkinan ditemukannya bentuk yang berbeda.
Kepulauan Mentawai sendiri terdiri dari wilayah yang luas dengan komunitas yang memiliki variasi tradisi.
Karena itu, dokumentasi tidak dapat dilakukan hanya dengan mengunjungi satu tempat.
Ady Rosa terus mengumpulkan data. Sedikit demi sedikit, motif yang ditemukan bertambah. Dari puluhan menjadi lebih banyak. Hingga akhirnya penelitian tersebut berhasil mengidentifikasi sekitar 160 motif tato tradisional Mentawai. Jumlah itu memperlihatkan betapa kaya sistem simbol yang hidup dalam masyarakat tersebut.
Tato Mentawai bukan satu pola tunggal. Ia memiliki banyak variasi yang masing-masing dapat membawa makna berbeda.
Membaca Garis sebagai Sejarah
Apa yang dilakukan Ady Rosa sesungguhnya bukan hanya mendokumentasikan seni tubuh. Ia sedang membaca sejarah melalui kulit manusia.
Banyak masyarakat tradisional tidak meninggalkan catatan sejarah dalam bentuk buku. Pengetahuan diwariskan melalui cerita, upacara, lagu, benda, pakaian, serta simbol tubuh.
Dalam konteks Mentawai, tato menjadi salah satu arsip kebudayaan. Garis yang dibuat pada tubuh dapat menyimpan ingatan mengenai hubungan manusia dengan alam.
Motif tumbuhan, hewan, maupun bentuk geometris dapat berkaitan dengan cara masyarakat melihat dunia.
Ady Rosa memahami bahwa apabila tradisi tersebut menghilang tanpa didokumentasikan, maka sebagian pengetahuan masyarakat juga dapat ikut hilang. Karena itu, penelitian tato sekaligus menjadi upaya menyimpan memori budaya.
Membawa Penelitian ke ITB
Hasil penelitian panjang mengenai tato Mentawai kemudian dibawa Ady Rosa ke dunia akademik yang lebih formal.
Pada tahun 1994, penelitian tersebut dituangkan dalam tesis program pascasarjana di Institut Teknologi Bandung.
Di kampus tersebut, Ady Rosa membahas tato Mentawai tidak hanya sebagai fenomena visual. Ia menempatkannya sebagai bagian dari seni, kebudayaan, identitas, dan kehidupan masyarakat.
Penelitian itu memperkuat posisinya sebagai salah seorang ahli yang paling serius mendalami tato tradisional Indonesia. Di lingkungan itulah julukan Jenderal Tato Indonesia kemudian melekat pada dirinya.
Sebutan tersebut menggambarkan keluasan pengetahuan dan ketekunannya dalam meneliti tato. Nama itu kemudian dikenal luas oleh kalangan akademisi, seniman, wartawan, serta peneliti tato.
Menjadi Rujukan Peneliti Tato
Kepakaran Ady Rosa membuatnya sering dicari sebagai narasumber. Peneliti dari dalam negeri datang untuk memperoleh penjelasan mengenai tato Mentawai.
Demikian pula peneliti dari luar negeri yang ingin memahami tradisi seni tubuh di Indonesia.
Ady Rosa memiliki keunggulan karena pengetahuannya dibangun melalui penelitian lapangan. Ia tidak sekadar membaca karya orang lain. Ia melihat langsung masyarakat, mendokumentasikan motif, serta mempelajari konteks kebudayaannya.
Karena itu, ketika berbicara mengenai tato Mentawai, ia dapat menjelaskan hubungan antara bentuk visual dan kehidupan masyarakat yang melahirkannya.
Posisi tersebut menjadikan Ady Rosa semacam penghubung antara masyarakat Mentawai dengan dunia penelitian. Ia membantu memperkenalkan tradisi lokal kepada kalangan yang lebih luas.
Tato Bukan Sekadar Hiasan
Salah satu hal yang berusaha dijelaskan Ady Rosa adalah bahwa tato tradisional tidak dapat dipahami hanya sebagai dekorasi tubuh.
Dalam masyarakat modern, tato sering dianggap sebagai bentuk ekspresi pribadi.
Seseorang memilih gambar karena menyukai desain tertentu atau ingin menunjukkan identitas dirinya.
Namun dalam masyarakat tradisional seperti Mentawai, tato memiliki konteks yang jauh lebih luas. Ia terhubung dengan struktur masyarakat. Tato dapat berkaitan dengan kepercayaan, hubungan manusia dengan alam, serta perjalanan kehidupan seseorang.
Karena itu, melihat tato hanya sebagai gambar akan menghilangkan sebagian besar maknanya.
Ady Rosa berusaha mengembalikan tato kepada lingkungan budaya tempat ia tumbuh. Dengan cara itu, penelitian tidak berhenti pada estetika, tetapi juga menyentuh antropologi dan sejarah.
Klaim tentang Usia Tato Mentawai
Salah satu pandangan Ady Rosa yang paling banyak menarik perhatian berkaitan dengan usia tradisi tato Mentawai.
Dalam penelitiannya mengenai Eksistensi Tato Mentawai, ia membandingkan tradisi tersebut dengan berbagai temuan tato kuno di dunia.
Selama ini, salah satu rujukan mengenai tato kuno dikaitkan dengan peninggalan Mesir sekitar 1300 sebelum Masehi.
Namun berdasarkan hasil penelitiannya, Ady Rosa berpendapat bahwa tradisi tato Mentawai telah dikenal pada periode sekitar 1500 hingga 500 tahun sebelum Masehi.
Atas dasar itulah ia menyampaikan pandangan bahwa tato Mentawai termasuk tradisi tato yang sangat tua, bahkan menurut penilaiannya merupakan salah satu yang tertua di dunia.
Pandangan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian terhadap penelitian Ady Rosa.
Namun, bagi dirinya, persoalan yang lebih penting bukan hanya menentukan siapa yang paling tua.
Yang utama adalah menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara telah memiliki tradisi seni tubuh yang sangat tua dan kompleks.
Membela Kebudayaan yang Terancam Hilang
Modernisasi membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat Mentawai. Pendidikan, agama, pembangunan, perpindahan penduduk, teknologi, serta hubungan dengan dunia luar mengubah cara hidup generasi baru.
Sebagian tradisi lama perlahan mulai ditinggalkan. Tato menjadi salah satu budaya yang menghadapi tantangan tersebut.
Bagi generasi tertentu, tato tradisional mungkin tidak lagi dianggap sebagai bagian penting dari identitas. Perubahan gaya hidup membuat proses pewarisan menjadi semakin sulit.
Ady Rosa melihat keadaan tersebut sebagai ancaman terhadap kekayaan budaya. Jika motif tidak dicatat dan maknanya tidak didokumentasikan, generasi berikutnya mungkin hanya melihat foto tanpa mengetahui cerita di baliknya.
Karena itu, pekerjaan penelitian memiliki arti penting. Dokumentasi menjadi cara menjaga pengetahuan ketika praktik budaya mulai berkurang.
Seniman yang Menggunakan Mata Peneliti
Latar belakang Ady Rosa sebagai pelukis memberikan keuntungan tersendiri ketika meneliti tato. Seorang pelukis terbiasa memperhatikan bentuk. Ia melihat garis, proporsi, komposisi, ritme, dan pola dengan ketelitian yang mungkin tidak dimiliki orang biasa.
Kemampuan tersebut sangat berguna ketika harus mendokumentasikan ratusan motif. Perbedaan kecil dapat memiliki arti penting. Satu garis tambahan mungkin menunjukkan variasi tertentu.
Sebuah bentuk yang terlihat serupa ternyata dapat memiliki makna berbeda.
Ady Rosa menggunakan mata seorang seniman sekaligus cara berpikir seorang peneliti. Perpaduan itulah yang membuat penelitiannya memiliki karakter khas. Ia memahami tato sebagai karya visual, tetapi juga berusaha menjelaskan sistem budaya yang melahirkannya.
Dari Kanvas ke Kulit Manusia
Sebagai pelukis, Ady Rosa terbiasa melihat kanvas sebagai tempat lahirnya karya. Namun di Mentawai, ia menemukan kanvas yang berbeda.
Kulit manusia menjadi ruang tempat kebudayaan dituliskan. Berbeda dengan lukisan yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tato melekat pada tubuh pemiliknya.
Ia ikut bergerak bersama manusia.
Ia menua bersama tubuh.
Ia menjadi bagian dari kehidupan seseorang sejak dibuat hingga akhir hayat.
Pandangan tersebut memberikan dimensi yang unik terhadap seni tato. Seni tidak lagi terpisah dari manusia. Karya dan pemiliknya menjadi satu.
Dalam konteks itulah tato Mentawai menjadi sangat menarik bagi Ady Rosa.
Menulis untuk Menjaga Ingatan
Selain menjadi pelukis dan pengajar, Ady Rosa juga menulis. Bagi seorang peneliti kebudayaan, tulisan menjadi salah satu cara terpenting untuk menyimpan hasil pengamatan.
Foto dapat merekam bentuk.
Gambar dapat memperlihatkan pola.
Namun tulisan diperlukan untuk menjelaskan cerita, konteks, dan makna.
Ady Rosa memahami bahwa pengetahuan mengenai Mentawai harus disimpan dalam berbagai bentuk. Ia terus mengumpulkan bahan dan mengembangkan tulisan mengenai masyarakat serta kebudayaan Mentawai.
Pada masa akhir kehidupannya, ia bahkan sedang menyelesaikan sebuah buku tentang Mentawai.
Buku tersebut menjadi salah satu pekerjaan yang terus dipikirkannya sebelum kesehatan semakin menurun.
Kehidupan Keluarga
Di balik perjalanan sebagai peneliti dan seniman, Ady Rosa menjalani kehidupan keluarga bersama Farida Idrus.
Farida merupakan seorang guru di SMKN 4 Padang. Dunia pendidikan menjadi salah satu titik temu dalam kehidupan pasangan tersebut.
Ady mengajar di perguruan tinggi, sementara Farida mengabdikan diri sebagai guru di sekolah.
Dari pernikahan mereka lahir empat orang anak, yakni Dipa Aditya Rosa, Dibya Prayasitta Somya Rosa, Devi Oktaviani Rosa, dan Iing Rosa.
Keluarga menjadi bagian penting di tengah perjalanan panjang penelitian Ady. Penelitian lapangan membutuhkan waktu.
Perjalanan ke berbagai wilayah Mentawai dapat membuat seorang peneliti harus meninggalkan rumah untuk sementara.
Di balik setiap karya akademik, terdapat keluarga yang ikut menyaksikan proses panjang seorang peneliti menjalani pengabdiannya.
Mengajar Generasi Muda
Sebagai dosen di Fakultas Bahasa, Sastra, dan Seni Universitas Negeri Padang, Ady Rosa memiliki kesempatan menularkan cara pandangnya kepada mahasiswa. Ia tidak hanya mengajarkan seni sebagai persoalan teknik.
Seni harus dibaca sebagai bagian dari masyarakat. Mahasiswa perlu melihat karya tidak hanya dari bentuk, tetapi juga dari cerita dan budaya yang melatarbelakanginya.
Pendekatan tersebut sangat penting di Indonesia. Negeri ini memiliki ribuan tradisi visual yang tersebar di berbagai daerah.
Ukiran, tekstil, tato, arsitektur, pakaian, dan berbagai bentuk seni lainnya menyimpan pengetahuan yang sangat besar. Namun, apabila tidak diteliti, banyak tradisi dapat hilang tanpa sempat dipahami.
Ady Rosa menunjukkan kepada mahasiswa bahwa seorang seniman juga dapat menjadi peneliti kebudayaan.
Menjadi “Jenderal Tato Indonesia”
Julukan Jenderal Tato Indonesia akhirnya menjadi identitas publik Ady Rosa. Sebutan tersebut terdengar unik, bahkan mungkin sedikit jenaka. Namun di baliknya terdapat puluhan tahun kerja penelitian.
Julukan itu menjadi pengakuan terhadap kedalaman pengetahuannya mengenai tato tradisional. Ketika orang ingin mengetahui tato Mentawai, nama Ady Rosa sering menjadi salah satu rujukan utama. Ia dapat menjelaskan motif, sejarah, fungsi, serta perubahan tradisi tersebut.
Kepakarannya membuat ia tidak hanya dikenal di Sumatera Barat. Namanya juga diperhitungkan oleh peneliti dari berbagai daerah dan mancanegara.
Dengan demikian, julukan “Jenderal” bukan berkaitan dengan pangkat militer.
Ia merupakan simbol penghormatan terhadap seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan luas mengenai dunia tato.
Ketika Kesehatan Mulai Menurun
Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, kesehatan Ady Rosa mulai terganggu. Ia beberapa kali mengalami serangan stroke. Namun, penyakit tidak segera menghentikan keinginannya untuk berkarya.
Ady masih memikirkan penelitian. Ia masih ingin menyelesaikan buku mengenai Mentawai. Ada pengetahuan yang telah dikumpulkan bertahun-tahun dan ingin dituangkan menjadi tulisan.
Namun tubuh memiliki batas. Setelah mengalami serangan stroke beberapa kali, kondisinya semakin menurun. Pada 16 Juli 2014, Ady Rosa mengalami serangan stroke untuk keempat kalinya. Ia kemudian menjalani perawatan di Rumah Sakit Yos Sudarso, Padang. Di rumah sakit itulah perjalanan hidup Sang Jenderal Tato Indonesia berakhir.
Ady Rosa meninggal dunia pada 16 Juli 2014, hanya beberapa hari setelah melewati ulang tahunnya yang ke-61.
Buku tentang Mentawai yang Belum Selesai
Ketika meninggal dunia, Ady Rosa masih dalam proses menyelesaikan sebuah buku mengenai Mentawai. Kenyataan itu memperlihatkan bahwa hingga masa akhir kehidupannya, pikirannya tetap berada pada kebudayaan yang telah ditelitinya selama bertahun-tahun.
Mentawai bukan lagi sekadar lokasi penelitian baginya. Wilayah itu telah menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya.
Ia mengenal masyarakatnya.
Ia mempelajari simbolnya.
Ia mendokumentasikan tatonya.
Ia berusaha menjelaskan kekayaan budaya tersebut kepada dunia.
Buku yang sedang dikerjakan menjadi simbol bahwa penelitian kebudayaan sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai.
Selalu ada cerita baru.
Selalu ada makna yang belum sepenuhnya dipahami.
Menyelamatkan 160 Motif dari Kelupaan
Salah satu warisan paling nyata Ady Rosa adalah dokumentasi sekitar 160 motif tato Mentawai. Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap motif terdapat sejarah dan ingatan masyarakat.
Apabila tidak pernah dicatat, beberapa motif mungkin dapat hilang seiring meninggalnya generasi yang memahami maknanya.
Dokumentasi menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Generasi berikutnya dapat melihat bahwa nenek moyang mereka memiliki sistem visual yang kaya.
Para peneliti dapat mempelajarinya.
Seniman dapat memperoleh inspirasi.
Masyarakat Mentawai sendiri dapat menggunakan hasil penelitian tersebut untuk memperkuat pemahaman terhadap identitas budayanya.
Dalam konteks itulah pekerjaan Ady Rosa memiliki nilai yang melampaui kehidupan pribadinya.
Ketika Tato Menjadi Pintu Memahami Peradaban
Melalui penelitian Ady Rosa, tato tidak lagi hanya dibicarakan sebagai seni tubuh. Tato menjadi pintu masuk untuk memahami sebuah masyarakat.
Dari satu motif, peneliti dapat bertanya mengenai hubungan manusia dengan alam. Dari teknik pembuatannya, dapat dipelajari teknologi tradisional. Dari orang yang mengenakannya, dapat dibaca struktur sosial. Dari proses pewarisannya, dapat dipahami bagaimana pengetahuan berpindah dari generasi ke generasi.
Satu gambar pada kulit ternyata dapat membuka banyak lapisan sejarah. Ady Rosa memahami kekayaan tersebut dan menghabiskan sebagian besar perjalanan akademiknya untuk mendokumentasikannya.
Warisan Sang Jenderal Tato
Drs. Ady Rosa, M.Sn. meninggalkan jejak yang unik dalam dunia seni dan penelitian Indonesia. Ia bukan hanya pelukis. Ia bukan hanya dosen. Ia bukan hanya penulis. Ia menjadi seorang peneliti yang memilih memasuki dunia tato tradisional dan menjadikannya sebagai objek kajian serius.
Dari Kepulauan Mentawai, ia menemukan ratusan motif. Dari motif-motif tersebut, ia membaca identitas, kepercayaan, sejarah, dan hubungan masyarakat dengan alam.
Penelitian itu dibawanya ke Institut Teknologi Bandung dan menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya.
Julukan Jenderal Tato Indonesia kemudian melekat hingga akhir hayat. Ia menjadi rujukan bagi peneliti dari Indonesia maupun luar negeri.
Melalui penelitiannya, Ady juga menyampaikan pandangan bahwa tradisi tato Mentawai memiliki usia sangat tua dan layak ditempatkan dalam pembicaraan mengenai sejarah tato dunia.
Namun, warisan terbesarnya mungkin bukan pada perdebatan mengenai tato mana yang paling tua.
Warisan itu terdapat pada keberhasilannya membuat masyarakat melihat tato Mentawai dengan cara yang berbeda.
Bukan sebagai gambar aneh. Bukan sekadar hiasan kulit. Melainkan sebagai bagian dari warisan pengetahuan manusia.
Ady Rosa mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu ditulis di atas kertas. Kadang-kadang sejarah ditulis di tubuh manusia. Dalam garis-garis tato, sebuah masyarakat menyimpan ingatannya.
Dan sepanjang hidupnya, Sang Jenderal Tato Indonesia berusaha memastikan agar ingatan itu tidak ikut hilang ditelan zaman. (PERS)

Updates.