Fasli Jalal, Dari Kota Pendidikan Padang Panjang Menuju Panggung Kebijakan Nasional

    Fasli Jalal, Dari Kota Pendidikan Padang Panjang Menuju Panggung Kebijakan Nasional
    Prof. Dr. dr. Fasli Jalal, Ph.D

    TOKOH - Prof. Dr. dr. Fasli Jalal, Ph.D., merupakan akademisi, dokter, ahli gizi, praktisi pendidikan, dan birokrat Indonesia yang mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk pembangunan manusia.

    Namanya dikenal dalam berbagai bidang yang sekilas tampak berbeda, mulai dari kesehatan dan gizi, pendidikan tinggi, pendidikan anak usia dini, keluarga berencana, hingga perencanaan pembangunan nasional. Namun, seluruh bidang tersebut sesungguhnya dipertemukan oleh satu perhatian besar: bagaimana meningkatkan kualitas manusia Indonesia sejak awal kehidupannya.

    Lahir di Padang Panjang pada 1 September 1953, Fasli tumbuh di tengah keluarga pendidik. Lingkungan masa kecilnya mempertemukannya dengan sekolah, pesantren, kegiatan Muhammadiyah, dan pengabdian sosial. Dari lingkungan itulah tumbuh keyakinan bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan dua fondasi yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun masa depan bangsa.

    Perjalanan hidup kemudian membawanya dari ruang kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas menuju Universitas Cornell di Amerika Serikat. Setelah kembali ke Indonesia, ia memasuki ruang-ruang perencanaan di Bappenas, memimpin berbagai direktorat di Departemen Pendidikan Nasional, menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Kepala BKKBN, hingga dipercaya memimpin Universitas YARSI di Jakarta.

    Di sela-sela berbagai jabatan tersebut, Fasli tetap menjadi pengajar, peneliti, pembimbing mahasiswa, dan pembicara mengenai gizi, pertumbuhan anak, stunting, serta Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif.

    Tumbuh di Kota Pendidikan

    Fasli Jalal lahir di Padang Panjang, sebuah kota kecil di Sumatera Barat yang sejak lama dikenal sebagai pusat pendidikan dan kehidupan keagamaan.

    Ayahnya bernama Engku Djalal Ibrahim, sedangkan ibunya bernama Rinjani Syarif. Keduanya berasal dari Nagari Tanjuang Bonai, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar.

    Kedua orang tua Fasli berprofesi sebagai pendidik. Sang ayah juga dikenal sebagai aktivis dan penggerak Muhammadiyah di Sumatera Barat.

    Bagi Fasli kecil, sekolah bukanlah tempat yang jauh dari kehidupan keluarga. Pendidikan hadir dalam percakapan sehari-hari, pekerjaan kedua orang tuanya, serta lingkungan masyarakat tempat ia tumbuh.

    Ayah dan ibunya mengabdikan diri sebagai pengajar di Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang. Lembaga tersebut dikenal sebagai salah satu pesantren Islam modern khusus perempuan yang memiliki tempat penting dalam sejarah pendidikan Indonesia dan Asia Tenggara.

    Engku Djalal Ibrahim bahkan pernah dipercaya menjadi Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Kulliyatul Mu’allimat El-Islamiyah Diniyyah Puteri.

    Di tengah lingkungan itulah Fasli belajar bahwa pendidikan bukan hanya proses menyampaikan pelajaran. Pendidikan merupakan bentuk pengabdian yang dapat mengubah kehidupan seseorang dan masyarakat.

    Padang Panjang juga meninggalkan kesan mendalam dalam dirinya. Kota tersebut dipenuhi sekolah agama, surau, pesantren, guru, dan pelajar dari berbagai daerah.

    Setiap hari, Fasli menyaksikan orang-orang datang untuk belajar. Mereka meninggalkan kampung halaman, tinggal jauh dari keluarga, dan menempuh pendidikan demi memperoleh masa depan yang lebih baik.

    Pemandangan tersebut menanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa ilmu pengetahuan memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan.

    Bertahun-tahun kemudian, setelah menyelesaikan pendidikan profesi dokter di Universitas Andalas, Fasli kembali ke lingkungan Diniyyah Puteri. Ia dipercaya memimpin klinik kesehatan yang baru didirikan di lembaga pendidikan tersebut.

    Kepulangannya seperti mempertemukan dua dunia yang telah membentuk kehidupannya: pendidikan dan kesehatan.

    Memilih Jalan Kedokteran

    Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri Padang Panjang, Fasli melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang.

    Keputusannya memasuki dunia kedokteran membawanya kepada pemahaman yang lebih luas mengenai kehidupan manusia. Ia belajar bahwa kesehatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh obat atau tindakan medis.

    Kesehatan juga dipengaruhi oleh makanan, lingkungan, pendidikan, kemiskinan, pengetahuan keluarga, dan kebijakan pemerintah.

    Semasa menjadi mahasiswa, Fasli tidak hanya dikenal karena kemampuan akademiknya. Pada tahun 1977, ia terpilih sebagai Mahasiswa Teladan Universitas Andalas.

    Penghargaan tersebut menunjukkan kesungguhan dan kedisiplinannya dalam menjalani pendidikan.

    Pada tahun 1981, Fasli menyelesaikan pendidikan profesi kedokterannya. Ia tercatat sebagai lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada tahun tersebut.

    Namun, kelulusannya sebagai dokter bukanlah akhir dari perjalanan belajar. Justru dari pendidikan kedokteran, perhatian Fasli mulai mengarah kepada persoalan gizi masyarakat.

    Ia melihat bahwa banyak masalah kesehatan sebenarnya berakar jauh sebelum seseorang datang ke rumah sakit. Anak yang kekurangan gizi, keluarga yang tidak memiliki pengetahuan kesehatan, serta masyarakat yang hidup dalam kemiskinan membutuhkan penanganan yang lebih luas daripada pelayanan medis individual.

    Fasli kemudian memilih memperdalam ilmu gizi. Bidang tersebut membawanya melihat hubungan antara kesehatan, pertumbuhan anak, pendidikan, ekonomi keluarga, dan kebijakan pembangunan.

    Menuntut Ilmu di Universitas Cornell

    Keinginan memperdalam ilmu membawa Fasli ke Amerika Serikat. Ia melanjutkan pendidikan di Universitas Cornell, Ithaca, New York.

    Di kampus tersebut, ia mempelajari Ilmu Gizi Masyarakat. Ia juga mengambil bidang pendukung dalam epidemiologi dan studi Asia Tenggara.

    Selama berada di Cornell, Fasli tidak hanya mengikuti perkuliahan. Ia terlibat dalam kegiatan akademik sebagai asisten peneliti Prof. Malden C. Nesheim dalam bidang gizi pada periode 1986–1987.

    Ia juga menjadi asisten dosen bidang gizi pada tahun 1989. Kemampuannya dalam mengajar memperoleh pengakuan melalui Teaching Assistant Recognition Award dari Universitas Cornell pada tahun 1987.

    Pengalaman tersebut membentuk Fasli menjadi seorang akademisi yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melakukan penelitian dan menyampaikan pengetahuan kepada mahasiswa.

    Pada tahun 1991, ia berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy dalam bidang Ilmu Gizi Masyarakat.

    Pendidikan di Cornell memperluas cara pandangnya terhadap persoalan gizi. Ia semakin memahami bahwa kekurangan gizi bukan semata-mata persoalan makanan.

    Di belakang seorang anak yang mengalami gangguan pertumbuhan dapat ditemukan persoalan kemiskinan, kurangnya pendidikan orang tua, sanitasi buruk, layanan kesehatan yang terbatas, dan kebijakan publik yang belum berpihak.

    Karena itu, penyelesaian persoalan gizi membutuhkan kerja lintas sektor. Dokter, guru, ahli ekonomi, perencana pembangunan, pemerintah daerah, dan keluarga harus bekerja dalam arah yang sama.

    Kembali untuk Merancang Pembangunan

    Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Fasli kembali ke Indonesia. Ia tidak langsung menghabiskan seluruh waktunya di rumah sakit atau ruang kuliah.

    Ia memilih memasuki bidang perencanaan pembangunan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

    Jabatan pertamanya di Bappenas adalah Kepala Bagian Gizi pada Biro Kesehatan dan Gizi. Tugas tersebut dijalaninya dari Januari hingga Oktober 1991.

    Di ruang perencanaan itulah Fasli mulai melihat bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan.

    Data mengenai kekurangan gizi tidak boleh berhenti dalam laporan penelitian. Data tersebut harus menjadi dasar penyusunan program, pembagian anggaran, penentuan sasaran, dan pengukuran keberhasilan pembangunan.

    Pada Oktober 1991, ia dipercaya menjadi Kepala Biro Kesehatan dan Gizi Bappenas. Jabatan tersebut dijalaninya hingga Maret 1993.

    Setelah itu, ia memimpin Biro Kesejahteraan Sosial, Kesehatan, dan Gizi sampai Juli 1996.

    Ruang lingkup pekerjaannya semakin luas. Fasli tidak lagi hanya menangani persoalan kesehatan dan gizi, tetapi juga kesejahteraan sosial masyarakat.

    Pada Juli 1996, ia dipindahkan menjadi Kepala Biro Agama, Pendidikan, Kebudayaan, dan Olahraga. Jabatan tersebut diembannya hingga Februari 2000.

    Perpindahan ini mempertemukannya secara lebih mendalam dengan dunia pendidikan nasional.

    Fasli mulai melihat bahwa pendidikan dan kesehatan memiliki hubungan yang sangat erat. Anak yang mengalami kekurangan gizi akan menghadapi kesulitan belajar. Sebaliknya, keluarga dengan pendidikan rendah sering kesulitan memperoleh dan menggunakan informasi mengenai kesehatan.

    Pada Februari 2000, Fasli kembali memimpin Biro Kesehatan dan Gizi Bappenas hingga Juni tahun yang sama.

    Pengalaman hampir satu dasawarsa di Bappenas membentuknya menjadi birokrat yang memahami pentingnya perencanaan berbasis data.

    Ia belajar bahwa program pemerintah harus dirancang bukan hanya berdasarkan niat baik, tetapi berdasarkan masalah nyata yang dihadapi masyarakat.

    Memasuki Dunia Kebijakan Pendidikan

    Pada 6 Juni 2000, Fasli Jalal memasuki Departemen Pendidikan Nasional. Ia diangkat menjadi Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Sumber Daya Pendidikan.

    Jabatan tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya dalam birokrasi pendidikan.

    Pada 29 Maret 2001, ia dipercaya menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda.

    Tugas tersebut membawanya menghadapi kenyataan bahwa tidak semua warga Indonesia dapat memperoleh pendidikan melalui jalur sekolah formal.

    Ada anak putus sekolah, warga dewasa yang belum memperoleh pendidikan dasar, pemuda yang membutuhkan keterampilan, serta kelompok masyarakat yang memerlukan bentuk pendidikan berbeda.

    Pendidikan luar sekolah menjadi salah satu jalan untuk menjangkau mereka.

    Fasli memahami bahwa negara tidak boleh hanya memperhatikan anak-anak yang duduk di sekolah. Masyarakat yang tidak terjangkau pendidikan formal juga memiliki hak untuk belajar.

    Ia memimpin direktorat tersebut hingga 18 Mei 2005.

    Sehari kemudian, pada 19 Mei 2005, Fasli menerima amanah baru sebagai Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

    Di jabatan tersebut, perhatiannya tertuju kepada guru dan tenaga pendidikan.

    Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan tidak mungkin dilakukan tanpa meningkatkan mutu pendidik. Kurikulum yang baik dan gedung sekolah yang lengkap tidak akan memberikan hasil maksimal apabila guru tidak mendapatkan pembinaan, penghargaan, dan kesempatan untuk berkembang.

    Fasli terlibat dalam berbagai upaya peningkatan kompetensi, profesionalisme, dan kesejahteraan tenaga pendidik.

    Pengalaman sebagai anak dari pasangan guru membuat persoalan tersebut memiliki kedekatan tersendiri dengannya. Ia memahami bahwa di balik kegiatan mengajar terdapat pengabdian, tanggung jawab, dan tantangan yang tidak ringan.

    Memimpin Pendidikan Tinggi

    Pada 23 Oktober 2007, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengangkat Fasli Jalal sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

    Jabatan tersebut membawanya ke tingkat baru dalam perjalanan pengabdiannya.

    Ia kini harus memikirkan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, mulai dari universitas besar di perkotaan hingga kampus-kampus yang sedang berkembang di daerah.

    Persoalan pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan jumlah mahasiswa. Perguruan tinggi juga harus membangun penelitian, menghasilkan inovasi, menjaga mutu, serta menyiapkan lulusan yang mampu menghadapi perubahan dunia kerja.

    Fasli mendorong agar universitas memperkuat kualitas akademik dan hubungan dengan masyarakat.

    Perguruan tinggi, menurut pandangannya, tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari persoalan bangsa. Pengetahuan yang dikembangkan di kampus harus memberikan jawaban terhadap kebutuhan masyarakat.

    Ia memimpin Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi hingga 5 Januari 2010.

    Sehari kemudian, pada 6 Januari 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat Fasli Jalal sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional.

    Mendampingi Menteri Pendidikan Nasional

    Sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli mendampingi Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh dalam Kabinet Indonesia Bersatu II.

    Jabatan tersebut menempatkannya di salah satu pusat pengambilan keputusan pendidikan nasional.

    Pengalamannya sebagai dokter, ahli gizi, perencana pembangunan, dan pejabat pendidikan memberinya cara pandang yang cukup lengkap.

    Ia memahami pendidikan sejak masa anak usia dini, pendidikan nonformal, peningkatan mutu guru, hingga pengelolaan perguruan tinggi.

    Fasli melihat pendidikan sebagai sebuah rangkaian panjang. Keberhasilan mahasiswa di perguruan tinggi tidak dapat dipisahkan dari keadaan mereka pada masa kecil.

    Seorang anak yang tumbuh sehat, mendapatkan gizi cukup, memperoleh pengasuhan baik, dan mengikuti pendidikan usia dini berkualitas memiliki peluang lebih besar untuk berhasil di sekolah.

    Karena itu, ia terus memberikan perhatian terhadap pembangunan anak secara menyeluruh.

    Jabatan Wakil Menteri Pendidikan Nasional dijalaninya hingga 19 Oktober 2011.

    Meskipun masa tugasnya berakhir, kiprah Fasli di bidang pendidikan tidak berhenti. Ia terus mengajar, terlibat dalam organisasi profesi, serta memberikan pemikiran bagi berbagai program pendidikan.

    Memimpin BKKBN

    Pada 13 Juni 2013, Fasli Jalal dipercaya menjadi Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

    Penugasan ini mempertemukan berbagai pengalaman yang telah dikumpulkannya selama puluhan tahun.

    Persoalan kependudukan tidak hanya berkaitan dengan jumlah penduduk. Di dalamnya terdapat persoalan kesehatan reproduksi, keluarga berencana, kesejahteraan keluarga, pendidikan anak, dan kualitas generasi mendatang.

    Sebagai Kepala BKKBN, Fasli bertanggung jawab langsung kepada Presiden dan menjalankan koordinasi dengan Menteri Kesehatan.

    Ia memimpin lembaga tersebut hingga 30 September 2014. Setelah itu, ia melanjutkan tugas sebagai pelaksana tugas kepala BKKBN hingga 6 Januari 2015.

    Bagi Fasli, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat manusia tumbuh.

    Di dalam keluargalah seorang anak memperoleh makanan, kasih sayang, stimulasi, pendidikan awal, dan perlindungan.

    Karena itu, pembangunan keluarga harus ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan nasional.

    Pengalaman di BKKBN semakin memperkuat perhatiannya terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, serta pencegahan stunting.

    Mengabdikan Ilmu di Ruang Kuliah

    Di balik berbagai jabatan pemerintahan, Fasli tidak meninggalkan dunia akademik.

    Ia menjadi staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sejak tahun 1982 hingga 2015.

    Ia juga pernah mengajar di Akademi Gizi Jakarta, menjadi dosen tamu pada pendidikan dan pelatihan gizi regional SEAMEO TROPMED, serta mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

    Fasli membimbing dan menguji mahasiswa program pascasarjana di Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor.

    Ia juga terlibat sebagai pembimbing dan penguji mahasiswa program doktoral pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia serta mengajar pada program doktor Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Jakarta.

    Pada 25 April 2009, Fasli dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Gizi di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

    Pengukuhan tersebut menjadi salah satu puncak perjalanan akademiknya.

    Ia telah menempuh jalan panjang dari mahasiswa kedokteran, dokter, peneliti, ahli gizi, perencana pembangunan, hingga profesor.

    Namun, bagi Fasli, gelar guru besar bukan akhir dari proses belajar. Gelar tersebut membawa tanggung jawab untuk terus mengembangkan ilmu dan membagikannya kepada masyarakat.

    Pada 24 Februari 2023, Fujian Normal University menganugerahkan gelar Guru Besar Kehormatan kepadanya.

    Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam bidang pendidikan dan pertukaran budaya antara Indonesia dengan Tiongkok, khususnya dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Mandarin di Indonesia.

    Memimpin Universitas YARSI

    Pada 31 Januari 2019, Fasli Jalal dilantik sebagai Rektor Universitas YARSI di Jakarta.

    Amanah itu membawanya kembali ke kepemimpinan perguruan tinggi, kali ini bukan sebagai pejabat kementerian, melainkan sebagai pemimpin universitas.

    Pengalaman panjang di pemerintahan memberinya pemahaman mengenai kebijakan nasional. Sementara itu, pengalaman sebagai dosen dan profesor membuatnya memahami kehidupan akademik dari dalam.

    Sebagai rektor, Fasli berhadapan dengan tantangan pendidikan tinggi yang terus berubah.

    Perguruan tinggi harus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan dunia kerja, tuntutan penelitian, dan persaingan internasional.

    Namun, universitas juga tidak boleh kehilangan tujuan kemanusiaannya.

    Bagi Fasli, pendidikan tinggi harus menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, dan kemampuan memberikan manfaat kepada masyarakat.

    Menjadikan Stunting sebagai Perhatian Besar

    Salah satu bidang yang paling kuat melekat pada nama Fasli Jalal adalah persoalan stunting.

    Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan yang berkaitan dengan kekurangan gizi kronis, kesehatan ibu dan anak, sanitasi, pengasuhan, serta berbagai persoalan sosial lainnya.

    Bagi Fasli, stunting tidak boleh hanya dipahami sebagai persoalan tinggi badan anak.

    Di balik tubuh anak yang tidak tumbuh secara optimal terdapat risiko gangguan perkembangan kognitif, kesulitan belajar, produktivitas rendah, dan berkurangnya kualitas sumber daya manusia.

    Karena itu, penanganan stunting harus dimulai jauh sebelum anak lahir.

    Kesehatan remaja putri, kondisi ibu sebelum dan selama kehamilan, pemberian ASI, makanan pendamping, sanitasi, imunisasi, serta stimulasi perkembangan anak menjadi bagian dari satu rangkaian yang tidak terpisahkan.

    Fasli terlibat dalam berbagai program nasional percepatan penurunan stunting.

    Ia pernah menjadi konsultan dan anggota tim pakar pada Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan di Sekretariat Wakil Presiden.

    Ia juga menjadi konsultan Bank Dunia untuk program percepatan penurunan stunting, tim ahli kerja sama perguruan tinggi dengan Kementerian Kesehatan, serta penasihat senior program stunting dan pendidikan anak usia dini pada Tanoto Foundation.

    Pada tahun 2022, ia dipercaya menjadi Ketua Tim Pendamping dalam pelaksanaan pendampingan perguruan tinggi untuk mempercepat penurunan stunting di BKKBN.

    Dalam berbagai forum, Fasli mengingatkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan kerja bersama.

    Pemerintah pusat tidak dapat bekerja sendiri. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, guru, organisasi masyarakat, dan keluarga harus terlibat.

    Perguruan tinggi memiliki peran penting karena memiliki peneliti, mahasiswa, tenaga kesehatan, dan jaringan pengabdian masyarakat yang dapat menjangkau daerah-daerah.

    Pendidikan Anak Usia Dini yang Menyeluruh

    Selain gizi dan stunting, Fasli memberikan perhatian besar terhadap Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif.

    Pendekatan tersebut melihat anak secara utuh. Seorang anak tidak hanya membutuhkan pembelajaran di ruang kelas.

    Ia juga membutuhkan kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, kasih sayang, serta lingkungan yang merangsang perkembangan kemampuan berpikir, bahasa, emosi, dan sosialnya.

    Fasli memahami bahwa tahun-tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat menentukan.

    Pada masa itulah otak berkembang dengan cepat. Kekurangan gizi, minimnya stimulasi, atau pengasuhan yang tidak memadai dapat memberikan dampak panjang terhadap kehidupan anak.

    Karena itu, pendidikan anak usia dini tidak boleh hanya diisi dengan kegiatan membaca, menulis, atau berhitung.

    Anak perlu bermain, bergerak, berinteraksi, merasa aman, mendapatkan makanan bergizi, serta memperoleh pemeriksaan kesehatan yang baik.

    Pandangan tersebut mempertemukan latar belakang Fasli sebagai dokter, ahli gizi, pendidik, dan perencana pembangunan.

    Baginya, pembangunan anak membutuhkan kerja sama lintas bidang. Dokter tidak dapat bekerja tanpa guru. Guru membutuhkan dukungan keluarga. Keluarga memerlukan layanan pemerintah dan lingkungan masyarakat yang sehat.

    Aktif dalam Organisasi Nasional dan Internasional

    Pengabdian Fasli tidak hanya berlangsung di lembaga pemerintahan dan kampus.

    Ia terlibat dalam banyak organisasi profesi, lembaga penelitian, kegiatan sosial, serta forum internasional.

    Fasli pernah menjadi anggota Tim Pengarah Penyusunan Strategi Nasional Pengendalian AIDS dan anggota Dewan Penasihat Program Tuberkulosis Paru Organisasi Kesehatan Dunia.

    Ia juga terlibat dalam International Union of Nutritional Sciences serta menjadi penasihat RAND Corporation untuk Indonesia Family Life Survey.

    Dalam organisasi profesi, Fasli pernah memimpin Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia selama dua periode dan menjadi Ketua Dewan Penasihat organisasi tersebut.

    Ia juga pernah memimpin Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan serta terlibat dalam Ikatan Dokter Indonesia dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia.

    Di bidang pendidikan dan kebangsaan, ia pernah menjadi anggota Majelis Pendidikan Tinggi Nasional, anggota Dewan Riset Nasional, Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bidang Hubungan Luar Negeri, serta Wakil Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia.

    Fasli juga dipercaya menjadi Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Andalas periode 2012–2016.

    Hubungannya dengan almamater tidak berhenti setelah menyelesaikan kuliah. Ia kembali sebagai dosen, profesor, dan pemimpin organisasi alumni.

    Di tingkat internasional, Fasli terlibat dalam World Association on Cooperative Education, International Council on Management of Population, Partners in Population and Development, dan berbagai lembaga lainnya.

    Ia juga menjadi anggota Dewan Pembina serta penasihat pada sejumlah lembaga yang bergerak dalam bidang demokrasi, pendidikan, pangan, gizi, kesehatan, kependudukan, dan pembangunan manusia.

    Pada periode 2024–2029, Fasli dipercaya menjadi Ketua Umum Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam.

    Ia juga tercatat sebagai Ketua Dewan Penasihat Aliansi Dosen ASN Seluruh Indonesia untuk periode 2025–2028.

    Keluarga sebagai Tempat Kembali

    Di tengah kesibukan sebagai akademisi, pejabat, dan aktivis organisasi, Fasli menjalani kehidupan keluarga bersama Dr. Gusnawirta Taib, M.Pd.

    Pasangan tersebut dikaruniai tiga orang anak, yakni Fitra Ifana, Anisa Ifana, dan Wahyu Figura.

    Keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Fasli. Berbagai tugas membawanya berpindah dari ruang kuliah, kantor pemerintahan, konferensi internasional, hingga kegiatan lapangan.

    Namun, di balik semua kesibukan itu terdapat keluarga yang menyertai dan mendukung pengabdiannya.

    Sebagai seorang ahli perkembangan anak, Fasli memahami bahwa keluarga bukan hanya tempat tinggal.

    Keluarga adalah ruang pertama tempat karakter, kesehatan, rasa percaya diri, dan kemampuan sosial seorang anak dibentuk.

    Penghargaan atas Pengabdian

    Perjalanan panjang Fasli Jalal memperoleh pengakuan dari berbagai lembaga di dalam dan luar negeri.

    Pemerintah Indonesia menganugerahkan Satyalancana Wira Karya kepadanya pada tahun 1996.

    Pada tahun 2014, ia menerima Medali Kepeloporan dan Bintang Mahaputera Utama dari Pemerintah Republik Indonesia.

    Penghargaan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas kontribusinya dalam pembangunan pendidikan, kesehatan, kependudukan, dan kualitas sumber daya manusia.

    Pengakuan internasional juga diterimanya.

    Pada tahun 2001, Fasli memperoleh Work of Excellence Award dari Bank Dunia di Washington, D.C. Pada tahun yang sama, ia menerima The Most Outstanding Alumni Award dari Canada World Youth di Montreal.

    Ia juga menerima The Leadership Achievement Award in Higher Education dari Asia Pacific Academic Consortium for Public Health pada tahun 2010.

    Pada tahun 2011, Fasli menjadi penerima pertama Henry Kaufman Prize dari Institute of International Education di Amerika Serikat. Ia juga memperoleh ITB Digital Learning Award dan Ciputra Award for Entrepreneurship.

    Penghargaan lainnya datang dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Universal Peace Federation, serta berbagai lembaga pendidikan dan media.

    Pada tahun 2023, Padang TV memberikan penghargaan Lifetime Achievement di bidang pendidikan kepada Fasli Jalal.

    Setahun kemudian, ia menerima Penghargaan Darma Abisatya Tunas Bangsa dari organisasi penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini.

    Namun, perjalanan hidup Fasli memperlihatkan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama.

    Penghargaan datang setelah puluhan tahun bekerja, mengajar, merancang kebijakan, mendampingi program, dan berbicara mengenai masa depan anak-anak Indonesia.

    Warisan Pemikiran tentang Pembangunan Manusia

    Perjalanan Fasli Jalal memperlihatkan bahwa pembangunan manusia tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah.

    Pendidikan tidak akan berhasil apabila anak mengalami kekurangan gizi. Program kesehatan tidak akan bertahan tanpa pendidikan keluarga. Pertumbuhan ekonomi tidak akan memberikan manfaat yang adil apabila kualitas manusianya tertinggal.

    Karena itu, pembangunan harus dimulai sejak sebelum kelahiran dan dilanjutkan sepanjang kehidupan.

    Fasli telah melihat persoalan tersebut dari berbagai tempat.

    Sebagai dokter, ia melihat dampak masalah kesehatan terhadap individu.

    Sebagai ahli gizi, ia memahami pentingnya makanan dan lingkungan bagi pertumbuhan anak.

    Sebagai pejabat Bappenas, ia belajar mengubah data menjadi rencana pembangunan.

    Sebagai pejabat pendidikan, ia berusaha memperluas akses dan meningkatkan mutu pendidikan.

    Sebagai Kepala BKKBN, ia memandang keluarga sebagai pusat pembangunan generasi.

    Sebagai rektor dan guru besar, ia mendidik mahasiswa agar mampu melanjutkan pekerjaan tersebut.

    Dari Padang Panjang, Fasli Jalal menempuh perjalanan menuju Padang, Ithaca, Jakarta, dan berbagai forum internasional.

    Namun, arah pengabdiannya tetap tertuju pada persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat: apakah anak memperoleh makanan yang cukup, apakah guru mendapatkan dukungan untuk mengajar, apakah keluarga memiliki pengetahuan untuk merawat anak, dan apakah negara telah menyusun kebijakan berdasarkan kebutuhan rakyat.

    Kisahnya bukan hanya tentang seorang dokter yang menjadi birokrat atau seorang profesor yang memasuki pemerintahan.

    Kisah Fasli Jalal adalah perjalanan seorang pendidik yang memahami bahwa masa depan bangsa dibentuk sejak seorang anak berada dalam kandungan, tumbuh di lingkungan keluarga, memasuki ruang pendidikan, dan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensinya.

    Ia mengajarkan bahwa membangun manusia memerlukan ilmu, ketekunan, kebijakan yang tepat, serta keberanian untuk bekerja melampaui batas satu bidang.

    Di situlah jejak pengabdiannya berada: pada usaha mempertemukan kesehatan, gizi, pendidikan, keluarga, dan kebijakan publik untuk membangun generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bermartabat. (PERS)

    prof. dr. dr. fasli jalal tokoh minangkabau
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Hormati Proses Hukum, Jangan Main Hakim...

    Artikel Berikutnya

    Agustiar Syah Nur, Rektor Pertama Universitas...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Kopka Kadek Parta Kawal Puncak Karya di Pura Khayangan Jagat Puncak Mundi
    Pasiter Kodim Klungkung Hadiri Rakor Kesiapan Verifikasi dan Validasi KDKMP
    Koptu Nengah Adnyana Dampingi Pelaksanaan Pasar Murah
    *Jual Beli Data Pribadi dan Lacak Identitas via Telegram, Tiga Pemuda Ditangkap Polda Jabar*
    *Raup Untung dari Kebocoran Data di Telegram, Tersangka "Doxing" Terancam 9 Tahun Penjara*

    Ikuti Kami